Tuesday, May 29, 2007

Keponakan dari Desa

Oleh: Prie GS

Suatu kali keponakan saya datang dari desa dengan motor dan tas penuh
meninggi di punggungnya, isinya adalah hasil kebun kakak saya: buah petai!
Buah yang baunya jauh lebih menggemparkan dibanding rasanya. Jumlahnya
membuat saya terpana dan karena banyaknya saya berencana membagi-bagikan
juga ke tetangga. Ada banyak alasan, pertama menyenangkan tetangga adalah
pekerjaan yang menggembirakan.

Kedua, makan petai enaknya harus bersama-sama. Ini baru adil. Karena jika
engkau makan, aku cuma kena baunya, ini kejahatan, karena bau petai ini
memang jahat sekali. Saya bukan penggemar petai, tetapi juga tidak anti sama
sekali. Tapi intinya ialah bahkan bau pesing pun kalau itu hasil produksi
bersama pasti jauh dari pertengkaran.

Tetapi bukan soal petai itu yang akan saya ceritakan, melainkan kedatangan
keponakan yang salah waktu itu, meskipun ia datang hendak membagi
kegembiraan. Tetapi itulah waku yang saya sedang diburu-buru pekerjaan.
Komputer baru saja menyala dan sebuah tulisan buru-buru harus dirampungkan.
Pada saat seperti ini, tak ada soal yang lebih penting selain melihat agar
tulisan itu lekas jadi. Maka kedatangan keponakan saya dari jauh itu tak
lebih dari gangguan.

Hampir saja saya menyelesaikan persoalan ini dengan cara praktis, menyapa
secukupnya, meminta maaf karena saya sibuk, meminta dia ambil makan dan
minum sendiri dan begitu pulang saya cukup memberinya uang saku seperlunya.
Hampir saja! Tetapi kemudian saya begitu marah kepada diri sendiri. Komputer
itu segera saya matikan. Ini pasti bukan karena saya terlalu sibuk. Ini
pasti karena di mata saya, pekerjaan adalah satu-satunya soal yang
terpenting di dunia. Pekerjaan benar-benar telah bersiap menjadi berhala.

Saya tanya kepada diri saya sendiri dengan perasan marah, apakah dunia akan
kiamat kalau pekerjaan ini sejenak saya hentikan? Tidak! Keponakan itu
datang dari jarak hampir seratus kilo, dengan beban berat di pungungnya.
Dari daerah pegunungan yang pasti membuat ia harus melawan dingin dengan
geraham gemeretak dan bibir kebiruan. Dan ia tidak akan singgah lama, karena
setelahnya ia harus pergi meneruskan urusannya sebagai anak muda.

Saya tidak tahu, berapa kali momen persaudaraan seperti itu akan terulang.
Tetap saya tahu, selama bumi berputar, cuma sekali saja saya akan melihat
keponakan ini bermotor, menembus hawa dingin, dengan beban menggunung di
punggung, demi mengantar oleh-oleh petai dari desa kepada om-nya.

Cuma sekali! Dan yang sekali itu pun cuma akan disambut dengan sekadar
sapaan seperlunya dan kebaikan basa-basi. Untung saya segera habis-habisan
mendamprat diri sendiri! Komputer itu saya pelototi dengan marah untuk saya
bunuh dengan tega dan dengan segera saya temui keponakan yang ketika kecil
saya gendong-gendong itu.

Saya pandangi dia hingga tas itu merosot dari pungungnya. Saya tongkrongi
ketika dia melepas jaket-jaketnya. Saya duduk di depannya. Saya tak peduli
ketika ia cuma diam saja. Ia telah tumbuh besar. Dia membesar, saya
menyibuk. Perkembangan ini telah membuat kami terancam saling asing. Tapi
meskipun kami saling terdiam, saya mengirim pesan yang jelas untuknya.

Ia tahu, saya tengah menyambutnya, menghargai kedatangannya dan menerimanya.
Pesan ini pelan-pelan membuatnya nyaman. Maka setiap pertanyaan tentang
kabar di desa, tentang kuliahnya di kota, tentang aktivitasnya, ia jawab
dengan hati yang hidup dan gembira. Saya segera mendengar seorang anak-anak
yang haus bercerita. Benar, ada segudang cerita yang ia ingin orang lain
mendengarnya, terutama pasti orang-orang terdekatnya.

Cerita itu akan menjadi barang beku, jika saya, om-nya, orang tuanya,
orang-orang terdekatnya, cuma sibuk dengan dirinya sendiri. Kesibukan yang
keterlaluan kepada diri sendiri, telah membuat banyak orang-orang yang
mestinya kita sayang menjadi korban. Mereka kesepian, gagal tumbuh dan beku.

Pertemuan kami tak lebih dari setengah jam. Saya mengantarnya hingga ia
lenyap dengan sepeda motornya di pengkolan jalan. Ia pasti pulang dengan
hati gembira dan pesan yang jelas di jiwanya: bahwa om-nya ini, masih
menyayanginya!

No comments:

Powered By Blogger

GEROMBOLAN PENYAMUN

GEROMBOLAN PENYAMUN

Aku, pakde dan Bude

Aku, pakde dan Bude