Saturday, May 31, 2008
Memilih Suami Seorang Guru SD
Ternyata si gadis malahan milih yang guru SD itu. Orang Tua si gadis penasaran, ditanya alasan si gadis tersebut.
Jawab si Gadis:
"Yang orang Telkom bisanya cuma tiga menit, lewat itu harus masukkin lagi. Yang pegawai Pos Indonesia, belum apa-apa sudah nanya dulu, yang biasa apa yang kilat.
Terus kalau yang dokter itu, baru masuk kamar, sudah nyuruh buka baju, pegang sana pegang sini, selesai. selanjutnya ngobrol doang. Sedangkan yang guru SD kan enak, dari awal dibahas, dikupas, sedikit demi sedikit, penuh kesabaran, kelembutan, dan kehangatan, serta pengertian. Selesai dikupas, nanya,sudah ngerti belum, kalau saya jawab belum, diulangi lagi dari awal, kan enak, jadinya lama."
Kakek Tersesat Diantar Pulang Oleh Polisi
Sambil menahan kegalauan hatinya nenek berkat, "Ada apa ini .. ??? Apa yang kakek lakukan??"
Pak polisi menjelaskan, "Oh tidak apa-apa Nek, tadi waktu di taman, kakek berkata bahwa dia tersesat dan tidak dapat menemukan jalan untuk kembali ke rumah ini. Dia hanya ingat alamatnya saja."
Nenek kaget lagi, "Lho kok bisa ...la wong setiap hari selama tiga puluh tahun ini kakek selalu ke sana, masak tiba-tiba dia lupa jalan pulang ke rumahnya???"
Lalu dengan spontan kakek menarik tangan nenek agar sedikit menjauh dari polisi itu, "Ssssttt .... Nenek ndak usah banyak tanya lagi ... tadi itu aku hanya terlalu capek untuk jalan kaki pulang ke rumah, jadi ya ... polisinya tak kerjain."
Wartawan Meliput Pembunuhan
Setelah tiba di tempat kejadian, terlihat sangat banyak kerumunan orang. Sang reporter mewawancarai beberapa orang yang berdiri di tengah-tengah kerumunan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Selain itu, dia juga mewawancarai beberapa anggota keluarga dan beberapa tetangga, tapi dia merasa belum puas.
Lalu dia melihat seseorang yang bertampang ramah dan sepertinya tidak asing. Si reporter lalu berpikir, "Wah ... kelihatannya Bapak yang satu ini baik dan dia sering tersenyum padaku, pasti dia bersedia memberikan keterangan yang lebih akurat."
Si Reporter mendekati Bapak tersebut dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan.
Reporter : "Apakah anda tetangga korban?"
Bapak : "Oh ... bukan."
Reporter : "Wah .. kalau begitu anda keluarganya!"
Bapak : "Bukan juga"
Reporter : "Kalau begitu apa hubungan anda dengan korban atau
kejadian ini?"
Bapak : "Tidak ada"
Reporter : "Lalu mengapa anda ada di sini?"
Bapak : "Sebab aku adalah sopir yang membawamu kemari."
Jalur Jalan ke Sekolah
Sang ayah, meski terlambat kerja, harus mengantarnya ke sekolah. Karena ia tidak tahu jalannya, ia menyuruh anaknya untuk mengarahkannya.
Mereka naik mobil melewati beberapa blok sampai sang anak menyuruhnya belok untuk pertama kalinya, kemudian beberapa blok lagi sebelum belokan kedua. Perjalanan sampai 20 menit -- namun ketika tiba di sekolah, ternyata sekolahnya dekat dengan rumahnya.
Sang ayah, dengan agak jengkel, bertanya kepadanya mengapa ia malah mengajak berputar-putar.
Sang anak menjelaskan, "Itu tadi jalan yang biasa dilewati bis sekolah, Ayah. Itu satu-satunya jalan yang aku tahu."
Ketika kebingungan menyelimuti hati
pernahkah kita mengalami yang namanya bingung ketika kita akan menentukan sekolah yang akan kita pilih untuk anak kita, misalnya anak kita itu dari TK mau ke SD..orang tua akan berdiskusi " nih mah, anak kita tuh mau kau sekolahkan ke mana...disitulah akan timbul perbedaan pendapat danakhirnya membuat bingung.
pernahkah kalian mengalami bingung ketika akan menentukan suatu pilihan dimana kalian akan memilih seorang wanita tuk kalian nikahi.
berbagai pertibangan akan ada dan muncul di benak kita, pendapat-pendapat orang-orang juga akan mempengeruhi pemndirian kita.
nah, disini kita butuh yang namanya kepasrahan atas diri kita kepada sanbg kholik yang maha tahu segalanya. karena mengandalkan sikap tegas kita bisa berujung pada keegoisan yang akan membawa kita ke pada jurang yang menyengsarakan kita sendiri. bersikap tidak tegas dan mengambangkan seseorang juga itu salah. BINGUNG..jadinya.
Bukan berlindung di balik ketidaktegasan tapi butuh pertimabangan tuk pembangmbilan suatu keputusan
penulis
rikrik wirasetiadi
Saridin dan Sunan Kudus
Tarekat Terjun Bebas dan Jamu Air Gamping
Oleh: Emha Ainun Nadjib
Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan
kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus,
berkumpul di halaman masjid.
Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah
yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin
ternyata memang hebat.
Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum
santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah Zayyinul Qur'an ana
biashwatikum - hiasilah Qur'an dengan suaramu. Membaca syahadat pun mesti
seindah mungkin.
Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini
manusia Jawa Tengah: lidah mereja Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau
orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau
menyesuaikan diri dengan lafal Qur'an, lidah mereka lincah banget.
Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro
atau pelog Jawa.
Tapi semuanya kemudian ternyata berlangsung di luar dugaan semua yang hadir.
Tentu saja kecuali Sunan Kudus, yang menyaksikan semua kejadian dengan
senyum-senyum ditahan.
Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes baca syahadat, ia berdiri
tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap
ke depan. Ia menarik napas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya umik-umik
[komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir
baca syahadat.
Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak
ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan ia pilih yang paling
tinggi. Ia meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat, dengan kedua tangan dan
kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.
Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah
blarak-blarak [daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia menyibak
lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik dan
menginjakkan kaki di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin
berteriak dan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa, kemudian badannya
terjatuh sangat cepat ke bumi.
Semua yang hadir berteriak. Banyak di antara mereka yang memalingkan muka,
atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak tangan.
Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi
gemuruduk sebagaimana seharusnya benda padat sebesar itu menimpa tanah.
Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang tergeletak.
Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.
Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak ada apa-apa.
Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah Sunan Kudus.
Membungkuk di hadapan beliau. Takzim dan mengucapkan sami'na wa atha'na -
aku telah mendengarkan, dan aku telah mematuhi.
Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk di sekitar dating
berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman. Mereka
saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak menghasilkan
pengertian apa pun.
Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri, termasuk
para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin didudukkan di sisi
Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Ia datar-datar saja.
"Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?" Sunan Kudus membuka pembicaraan
sambil tetap tersenyum. "Saridin telah bersyahadat. Ia bukan membaca
syahadat, melainkan bersyahadat. Kalau membaca syahadat, bisa dilakukan oleh
bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat hanya bisa dilakukan oleh
manusia dewasa yang matang dan siap menjadi pejuang dari nilai-nilai yang
diikrarkannya.
Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.
"Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan
suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan
bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkannya. Dan Saridin memilih
satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu
menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa."
Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin: "Katamu
tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena perbuatanmu itu?"
"Takut sekali, Sunan."
"Kenapa kamu melakukannya?
"Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku."
"Kamu tidak menggunakan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari puncak
pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?"
"Aku tahu persis itu, Sunan."
"Kenapa kau langgar akal sehatmu?"
"Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi. Yakni bahwa aku mati
atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki demikian, bukan
karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku sedang tidur. Kalau Allah
menghendaki aku mati, sekarang ini pun tanpa sebab apa-apa yang nalar, aku
bisa mendadak mati."
"Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang panas dan
membakar tenggorakan dan perutmu?"
"Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi
kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena
Allah memang menghendaki aku mati."
Sunan Kudus melanjutkan: "Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang
kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya Allah, tetapi bisa
membahayakan orang lain?"
"Maksud Sunan?"
"Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu
dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?"
"Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku, Sunan, melainkan
kebodohan para peniru itu sendiri," jawab Saridin, "Setiap manusia memiliki
latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya
sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap
orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya
dengan mentalnya, dengan keyaknannya, dengan tempat ia berpijak, serta
dengan berbagai kemungkinan sunatullah atau hukum alam permanen. Kadal
jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan
ikan tak usah ikut balapan kuda."
"Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan
bunglon. Apa katamu?"
"Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah
dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang
memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah
bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepadaNya."
(Do'a of the Day) 24 Jumadil Awal 1429H
In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind
Allaahumma rabbas samaawaatis sab'i wa maa adl-lal ta wa rabbal ardhiina wa
maa aqallat wa rabbasy syayaathiini wa maa adlallat kun lii jaaran min
syarri khalqika kullihim jami'an an yafrutha 'alayya ahadun minhum au an
yabghaa 'alayya 'azza jaaruka wa jalla tsanaauka wa laa ilaaha ghairuka wa
laa ilaaha illaa anta.
Ya Allah, Tuhannya tujuh langit dan segala macam isinya, Tuhannya beberapa
bumi dan segala macam di bawahnya, Tuhannya semua syetan dan segala yang
disesatkan olehnya. Lindungilah aku dari kejahatan makhluk-Mu semuanya, dari
sewenang-wenang manusia atas diriku dari seseorang yang berlaku curang
kepadaku. Maha Kuat perlindungan-
Tuhan yang patut disembah selain Engkau.
Humor Suroboyoan
Kapanane onok Salesman Vaccum Cleaner teko ndik omahku.
Ewangku sik durung sempat ngomong opo-opo moro-moro salesman iku mau langsung nyebarno tembelek wedhus ndhik karpet.
Jarene ngene ''Wis pokok'e Buk, lek sampek vaccum cleanerku iki gak isok nyedot, tak jamin tak emploke sithok-sithok tembeleke wedhus iku."
Jare ewangku "Peno kepingin didhulit sambel ta ngemploke ?".
"Lho opok'o masalae ?'' salesmane takok.
"Lha peno gak ndhelok ta lek saiki lampu mati ..."
2 - Rasa Stroberi ta . . .?
Pas acara perpisahan arek TK, setiap murid nggowo kado gawe bu gurune.
Sing pertama maju anake pedagang bunga. Bu gurune ngambung kadone ambek mbedhek, "Isine kembang yo....".
"Seratus buat bu guru.." jare anak'e pedagang bunga.
Sing kedua maju anak'e wong dhodhol mracang. Ambek bu gurune kadone
dikocok-kocok. Wah iki rodok angel mbedheke, pikire.
"Isine permen yo...".
"Pinter bu guru.." jare anak'e wong dhodhol mracang.
Mari ngono, maju anak'e wong dhodhol es krim. Pas kadone diangkat, dhadhak netes. Ambek bu gurune tetesane diincipi.
"Es krime rasa anggur yo..." jare bu gurune kemeruh.
"Salah..." jare arek'e.
"Rasa stroberi ta...?" bu gurune kemeruh maneh.
"Salah .." jare arek'e.
"Wis aku nyerah, rasa opo sih iku" takok bu gurune.
"Isine anak'e asu kok bu guru..."
3 -Ngentutan
Yuk Jah lungo perikso nang dokter.
"Opo'o sampeyan ning ?'' Jare doktere.
Yuk Jah terus cerito, "Iki lho dok, wis sak wulan iki aku malih ngentutan.
Sak jam isok ping sepuluh aku ngentut. Cumak untunge, entutku iku gak mambu ambek gak onok suorone, dhadhi gak onok sing ngerti. Lha iki pas aku lungguh ndhik ngarepe sampeyan ae wis ping telu aku ngentut. Tapi sampeyan gak ngerti tho, mergo iku mau, entutku gak muni ambek gak mambu. Cumak aku malih gak enak dhewe, mosok arek wedhok ngentutan ".
"Oh, ngono ta.. Lek ngono tebusen resep iki. Seminggu maneh mbaliko rene maneh" jare doktere.
Pas wis seminggu yuk Jah mbalik maneh nang doktere.
"Wis enakan ta ?" takok doktere.
"Aku gak ngerti obat opo sing dokter kekno wingi, cumak entutku saiki kok
ambune malih bosok gak karuan. Sampek kudhu nggeblak aku. Tapi untunge entutku sik tetep gak muni", jare yuk Jah.
"Berarti saiki irung sampeyan wis gak buntu maneh. Saiki tebusen resep iki
yo" jare doktere.
"Obat opo maneh iku pak dokter ?" takok yuk Jah.
"Obat kopok.."
GEROMBOLAN PENYAMUN
Aku, pakde dan Bude
